Jumat, 07 November 2008

Islam Tak Bisa Disentuh?

gaulislamedisi 053/tahun ke-2 (27 Syawal 1429 H/27 Oktober 2008)




Hehe… Islam tak bisa disentuh alias untouchable? Ah, jadi inget judul film lawas, The Untouchables (1987) yang dibintangi Sean Connery, Kevin Costner dan Robert De Niro. Film tentang gangster yang merajalela di Chicago tahun 1920-an ini dikemas apik oleh sutradara Brian De Palma--yang juga sukses menggarap Mission
: Impossible (1996). Disebut untouchable karena kelompok bandit itu tak pernah bisa tersentuh hukum alias kejahatannya tetap menakutkan masyarakat tanpa bisa dijerat hukum karena lembaga pengadilan kalah pamor dan tentu saja para pengadilnya bisa dengan mudah dijejali duit oleh gerombolan bandit ini.


Nah, yang saya maksud Islam tak bisa disentuh ini adalah seolah Islam tuh nggak bisa disentuh sama umatnya sendiri. Kok bisa sih? Buktinya, banyak kaum muslimin yang nggak kenal dengan ajaran Islam. Malah banyak kaum muslimin yang mengambil ajaran dari Barat. Banyak kaum muslimin yang nggak paham hukum syariat tentang larangan mendekati zina, misalnya. Sebaliknya, banyak kaum muslimin lebih suka mempraktikkan gaya hidup permisif dan hedonis warisan budaya Barat. Wajar kalo seks bebas marak, perjudian bejibun, dan kriminalitas meningkat. Para tokoh cendekiawan muslimnya pun lebih mahir meng-hapal dan mengamalkan pendapat-pendapatnya Voltaire dan Montesque ketimbang hadis-hadis Rasulullah saw. dan pendapat para imam mazhab. Apakah ini salah Islam? Tentu tidak.


Islam nggak salah apa-apa. Bahkan Islam memberikan cahaya terang. Kitanyalah sebagai umatnya yang nggak mau mengenal Islam. Padahal, Islam udah disebarkan sejak lama oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Bahkan udah nyebar sampe ke negeri ini. Namun, Islam hanya sebatas agama dan dikenakan simbol-simbolnya saja. Sementara akidahnya masih bolong-bolong diyakini, syariatnya masih compang-camping nggak karuan.


Bukti nyatanya, banyak kok kaum muslimin yang rajin shalat dan rajin puasa, tapi akidahnya kedodoran karena banyak yang masih percaya dukun dan ilmu pengasihan untuk kelancaran hidupnya. Banyak pula kaum muslimin yang kemana-mana senang mengenakan simbol-simbol Islam yang mudah tampak seperti pake peci, sorban, berkerudung (bukan jilbab), mengenakan baju takwa (baju koko), juga ada yang sarungan., tapi pengamalan syariatnya memprihatinkan. Gimana nggak, simbol Islam dikenakan, tapi judi jalan terus, pacaran hot, bahkan remaja puteri yang mengenakan kerudung tapi ikut larut di arena konser musik, campur-baur dengan lawan jenis dan jejingkrakan sehingga tak ada bedanya dengan mereka yang umbar aurat. Duh, mengenaskan sekali nasib kaum muslimin ini. Islam hanya dijadikan sebagai ibadah ritual saja. Sementara pengamalan syariatnya, pengokohan akidahnya nyaris nggak bisa dipelajari karena kemalasan dari kaum muslimin itu sendiri. Musibah!


Yup, kalo gitu benar banget apa yang dikatakan Muhammad Abduh, "al-Islamu mahjubun bil muslimin - agama Islam terhalangi oleh kaum muslimin." Betul, cahaya dan keagungan Islam pudar oleh perbuatan umatnya sendiri. Umat Islam menjadi perusak citra Islam. Untuk kalangan seperti ini, bukan salah Islam sehingga menganggap Islam the untouchable, tapi justru merekalah yang tak mau disentuh dan tersentuh dengan nilai dan ajaran Islam. Setuju nggak sih?




Salah paham tentang Islam


Sobat muda muslim, ada lagi penyakit yang menerpa kaum muslimin saat ini, yakni salah paham terhadap ajaran Islam. Intinya, Islam nggak dipahami dengan benar dan baik oleh kaum muslimin. Mengapa ini bisa terjadi? Setidaknya ada tiga faktor. Pertama, kaum muslimin salah mengambil jalan hidup, bukan Islam yang diambil, tapi ideologi selain Islam. Mereka menganggap bahwa Islam tak bisa menjadi alat perjuangan, sehingga tak perlu dilibatkan mengatur kehidupan. Kedua, kaum muslimin tidak utuh mempelajari Islam. Ketiga, adanya upaya sistematis mengaburkan pema-haman Islam yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam melalui tokoh-tokoh yang berasal dari kaum muslimin hasil didikan musuh-musuh Islam. Lengkap sudah penderitaan kaum muslimin saat ini. Menyedihkan banget, Bro.


Faktor pertama yang memicu salah paham tentang Islam adalah karena kaum muslimin salah dalam mengambil jalan hidup. Halah, ini sih pastinya bukan cuma salah paham, tapi yang jelas udah salah jalan, karena salah mengambil sumber informasinya. Kayak orang mau bepergian ke suatu tempat, tapi peta jalannya salah. Hmm.. itu sih nyampe kagak, nyasar udah pasti. Tul nggak?


Beberapa bukti atas fakta ini adalah, banyaknya kaum muslimin yang memper-juangkan feminisme, demokrasi, sekularisme, kapitalisme, bahkan sosialisme dengan menganggap bahwa hal itu lebih relevan untuk saat ini. Waduh, celaka banget tuh. Sebab, sejatinya ide-ide itu bertentangan dengan Islam dan bahkan menentang Islam. Itu tahapan idenya. Akibatnya dalam tataran praktik, nggak sedikit kaum muslimin yang bangga menyan-dang istilah "Kiri" (baca: kaum sosialis) hingga akhirnya mereka berjuang di masyarakat dengan cara-cara seperti yang dilakukan kaum sosiali, Berarti ideologinya ya sosialisme-komunisme. Padahal dirinya muslim, lho. Kadang ada yang masih suka shalat juga. Tapi nggak konek antara pikir dan rasanya. Campur aduk antara Islam dan Sosialisme. Gawat!


Oya, nggak sedikit pula dari kaum muslimin yang merasa sudah menjadi manusia seutuhnya ketika memperjuangkan demokrasi dan HAM. Maka, seks bebas tumbuh subur, pergaulan bebas antara laki dan perempuan jadi tradisi, pengingakaran terhadap agama juga marak. Menyedihkan sekali bukan? Inilah buah dari salah mengambil informasi jalan hidup, karena menganggap Islam tak mampu menyelesaikan kehidupan hingga akhirnya memilih kapitalisme dan juga sosialisme. Hmm.. kasihan banget!


Sobat, untuk faktor kedua yang memungkinkan munculnya salah paham terhadap Islam adalah kaum muslimin tidak utuh mempelajari Islam. Setengah-setengah, gitu lho. Kasarnya sih, apa saja dari Islam yang menurutnya baik dan menyenangkan diambil, sementara yang bikin ribet bagi dirinya ditinggalin jauh-jauh. Ini namanya pilah-pilih sesuka nafsunya. Bukan atas pertimbangan akidah dan syariat Islam. Superkacau banget kan pemahamannya?


Shalat akan dilaksanakan kalo dengan shalat ia merasa tentram dan tenang. Jadi bukan atas pertimbangan hukum syara dan ketataan kepada Allah Swt. dalam melaksanakan shalat, tapi karena shalat membuat dia tenang. Itu sebabnya, ia akan mengambil ajaran Islam tentang shalat. Tapi jika menurut hawa nafsunya ajaran shalat itu bisa mengganggu aktivitasnya berbisnis, maka ia akan tinggalkan shalat itu. Karena menganggap waktu shalat itu mengganggu urusan penting yang dia kerjakan. Daripada memilih menghentikan sementara kepentingan bisnisnya untuk shalat, ia malah memilih kepentingan bisnis dan meninggalkan shalat.


Itu sebabnya, setengah-setengah dalam mempelajari Islam berdampak tidak utuhnya pemahaman tentang Islam. Tanggung, gitu lho. Bukan tak mungkin pula jika akhirnya marak bermunculannya para pelaku malpraktik dalam ajaran Islam. Hukum yang wajib dilakukan malah ditinggalkan, tapi yang sunah dikerjakan seolah menjadi kewajiban. Contohnya, banyak para wanita yang getol shalat sunnah tahajjud, tapi kalo keluar rumah rambutnya dibiarkan bebas tanpa ditutupi kerudung dan bagian tubuhnya dengan sukses dilihat orang lain karena tak menutup aurat dengan sempurna. Piye iki? Harusnya kan yang wajib dilakukan, yang sunnah juga dikerjakan semampunya. Inilah yang disebut malpraktik alias salah prosedur dalam menjalankan syariat Islam, Bro.


Nah, mengenai faktor ketiga yang sangat mungkin memicu terjadinya salah paham terhadap Islam adalah banyaknya cendekiawan muslim yang menyampaikan Islam dengan pemahaman yang keliru. Islam yang disampaikan itu sudah dimodifikasi terlebih dahulu, sesuai selera dan keinginan mereka yang dipesankan dari musuh-musuh Islam. Mungkin saja cendekiawan muslim yang menyebarkan pemahaman Islam yang keliru ini nggak nyadar kalo dirinya diperalat oleh musuh-musuh Islam, atau bisa saja mereka tahu bahwa yang disampaikannya itu keliru tapi karena demi jabatan atau harta berlimpah yang dijanjikan kalangan tertentu yang membenci Islam, akhirnya ya mereka lakukan juga tugas salahnya tersebut.


Ya, betul, bahkan ada cendekiawan muslim yang berusaha keras memperjuangkan sekularisme, getol mendakwahkan demokrasi, nggak lelah terus menyebarkan liberalisme dalam Islam. Apakah mereka ulama? Ya, jika dilihat dari keilmuannya sangat boleh jadi mereka ulama. Tapi seperti kata Rasulullah saw. ulama itu ada dua jenis: ulama yang benar dan baik, tapi juga ada ulama yang jahat dan buruk perbuatan maupun pemikirannya. Waspadalah terhadap tipe jenis ulama yang jahat ini.


Oya, apakah ini salah Islam? Nggak kok. Ini murni salah pelakunya. Entah tanpa disadarinya atau disadarinya dengan sangat. Sebab, yang jelas adalah kesalahan dari mereka yang menyebarkan Islam dengan informasi yang keliru. Akibatnya, tentu banyak kalangan awam dari kaum muslimin yang mengikuti apa yang disampaikan ulama jahat ini dengan alasan hal itu memenuhi selera liberalnya sebagai muslim yang nggak mau terikat ajaran Islam. Mereka menganggap bahwa agama hanya urusan pribadi dan tentunya negara nggak boleh sama sekali menerapkan aturan negara berdasarkan aturan agama untuk ngurus rakyat. Ya, inilah sekularisme, sobat. Berbahaya!




Ayo bangga menjadi Muslim!


Jangan tuduhkan kesalahan kepada Islam, jika banyak kaum muslimin yang hidupnya setengah Islam dan setengah kufur. Itu karena dirinya telah mengambil ajaran Islam semata yang dia suka sembari mengambil jalan hidup lain untuk yang membuat dia juga merasa nyaman. Pilih-pilih sesuka selera hawa nafsunya. Ini bunglon namanya. Padahal, kalo beriman kepada Allah Swt. ya harus jelas dan sepenuhnya. Nggak boleh nyari aman. Allah Swt. udah ngingetin manusia dalam firmanNya (artinya):



وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالآْخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ



"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang (menjadi kafir kembali). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (QS al-Hajj [22]: 11)



So, kalo diri kita udah menjadi Muslim, berarti sepenuhnya kita sadar akan peran kita yang sesungguhnya, yakni bukan hanya sekadar melaksanakan ajaran Islam karena kita Muslim, tapi juga menjadi penjaga ajaran Islam dan bahkan menjadi pembela dan pejuang Islam. Itu lebih mantap deh! Sumpah!


Oya, jangan salahkan Islam kalo kita hanya mampu menjadi Muslim yang "apa adanya" karena menganggap Islam nggak bisa disentuh (untouchable) oleh dirinya. Sejatinya itu kesalahan kita karena nggak mau belajar Islam. Berarti kita yang justru nggak mau menyentuh dan disentuh oleh Islam. Padahal, kita wajib bangga menjadi Muslim, karena Islam yang kita peluk adalah agama yang akan menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat. Ok? Allahu'alam. [solihin: osolihin@gaulislam.com]

salam #053


Assalaamu'alaikum wr. wb.


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. dan hanya untuk Allah Swt. sajalah segala puja dan puji. Kepada Allah Swt. jualah kita menyerahkan segala urusan dan hanya kepadaNya saja kita menyembah dan meminta pertolongan. Buletin remaja gaulislam, pada pekan ini adalah genap satu tahun menemani kamu semua sejak pertama kali terbit tanggal 29 Oktober 2007. Nggak terasa ya? Setahun itu ternyata cepat banget. Buletin gaulislam ini pun alhamdulillah konsisten dalam terbit. Tak satu pekan pun terlewatkan, kecuali gaulislam mengisinya dengan artikel-artikel khas remaja yang oke punya. Semoga usia satu tahun ini menjadi berkah bagi semua.


Sobat muda muslim, dalam perjalanannya selama setahun ini, gaulislam cukup banyak mendapat pengalaman berharga. Di antaranya menjadi buletin remaja yang paling diburu untuk dibaca. Statistik di internet cukup memberikan gambaran bahwa artikel-artikel khas buletin gaulislam banyak diklik di website www.gaulislam.com. Alhamdulillah, semoga saja yang baca mendapat manfaat dan ilmu, dan bagi kita-kita di sini menjadi tabungan amal shalih. Edisi cetaknya alhamdulillah sudah menjangkau berbagai daerah di Indonesia. Ini sebuah prestasi yang patut kami banggakan mengingat perjalanan buletin ini yang sempat terseok di awal penerbitannya. Ya, seperti kereta pertama kali jalan, lambat banget putaran rodanya, begitu mencapai jarak tertentu kecepatan bisa ditambah sesuai keinginan. Enjoy!



Salam,


Redaksi

animo #053

Assalamu'alaikum. PrTAmA bC GI, aKu meRaSA bc bulETin yG prnAH aKu bC jaMAn dulU, ykni STUDIA. Stlah bC pr pNUlisNYa aKu gA raGu lGi, mang BenAr dugAAnku. STUDIA beRUbah jd GI. Kok bruBah sich? Tp eMang nm GI jd Bgs.



Sisy, alumni SMA, Bogor [+628179063xxx]




'alaikumussalam Sisy. Waduh, bkn gnti nama, emang kita beda ama STUDIA. Cuma pnlisnya aja yang sama. :-)



Asslm. Wr.Wb. Salut untuk gaulislam edisi 050 ttg Primbon warisan jahiliyah. Bagus banget. Aku jadi ngerti tentang hukum haramnya percaya zodiak & primbon. Makasih ya.



Amelia, Jakarta [amelxxxxx@plasa.com]




Wswrwb Amelia. Alhamdulillah, semoga GI tetap ada manfaatnya bg siapa pun yang membacanya. Makasih ya.



Assalaamu'alaikum. Rdksi tlng aku donk. Aku ga dpt lg GI edisi cetak gara2 kakak2 pngajian eks-kul di skulku gak jualan lg GI, ktanya GI dilrang trbit. Pdhal, aku insaf stlh bc kamu. Guru2ku jg suka. Why? DIlrang sm siapa?



Irene, Ciracas, Jaktim [+628567643xxx]




'alaikumussalam Irene. Hmm.. kmi mndpat laporan yg sm bhw di bbrp t4 GI emang ada yg larang. Bbrp agen GI bhkn diinterogasi. Ini aneh. Kamu pasti tahu apa hukuman bg mrka yg melarang dakwah kan? Dosa bnget!



Asslm. Wrwb. Edisi Virginitas Remaja dan Laskar Remaja Islam keren abiz. Aku makin suka GI. Bravo GI!



Yuswandari, Bogor [+6285692563xxx]




'alaikumussalam Yuswandari. Ok deh, makasih banyak ya atas apresiasi kamu ke GI. Tetap semangat!

Kamis, 06 November 2008

Laskar Remaja Islam

gaulislamedisi 052/tahun I (20 Syawal 1429 H/20 Oktober 2008)




Akhir-akhir ini banyak orang yang lagi kesengsem ama film Laskar Pelangi. Berawal dari novel laris dengan judul yang sama karya Andrea Hirata, akhirnya diangkat ke layar bioskop oleh sutradara Riri Reza. Hasilnya, banyak orang yang senang dan terinspirasi ama film itu. Konon banyak politisi yang ikutan nonton juga terharu oleh adegan demi adegan pada film itu.


Film ini menceritakan perjuangan anak-anak sekolah di daerah yang tertinggal menggapai masa depan. Jangan bandingkan ama kota Jakarta yang hingar bingar en segala ada, bersekolah aja mereka kudu menghindari hadangan seekor buaya besar. Tapi karena ketekunannya, banyak di antara mereka yang menjadi orang sukses di masa depan.




Nggak manja


Mungkin banyak yang tersentuh oleh film itu, tapi berapa banyak nih remaja jadi nyadar, bahwa hidup itu emang perjuangan? Kejadian dalam novel itu bukan bohongan. Banyak teman kita yang berjuang untuk bisa sampai ke sekolah. Di satu harian nasional pernah dipampang foto seorang anak SD yang sedang berenang untuk tiba di sekolah. Ya, sekolahnya emang terhalangi oleh sungai besar. Untuk itu ia kudu berangkat pagi-pagi banget dan siap-siap berenang. Tas, sepatu, seragam sekolah, dan buku-buku pelajarannya dimasukkan ke dalam kantong plastik agar tidak basah. Dan … byur! Ia pun berenang agar tiba di sekolah.


Saudara-saudara saya pun sering bercerita kalo dulu mereka harus jalan kaki 4-5 kilometer ke sekolah. Untuk itu mereka melewati perkebunan teh, karet, dan melintasi jembatan kereta api yang tingginya masya Allah! Kadangkala di tengah jembatan harus berpapasan dengan kereta api. Mereka pun menghindar ke bahu jembatan yang sengaja disiapkan oleh perusahaan kereta api, atau bergelantungan di bawah rel!


salam #052


Assalaamu'alaikum wr. wb.


Alhamdulillah, edisi 052 ini adalah edisi pekan ke 52, genap setahun buletin gaulislam menemani kamu semua tanpa absen sekalipun. Kalo kamu ada yang nggak kebagian edisi-edisi tertentu, langsung aja deh cari di www.gaulislam.com. Nggak seru dong kalo dapetin gaulislam cuma sepotong-sepotong. Semoga ada manfaatnya dan tentunya membuat kamu jadi tambah pinter dan gaul yang kepintaran dan gaulmu itu tetap dilandasi iman dan takwa kepada Allah Swt.


Bro en Sis, semoga Ramadhan kemarin menjadikan kita tambah takwa dan tambah mantap imannya kepada Allah Swt. Insya Allah iman dan takwa yang kita miliki menjadi bekal yang sangat bermanfaat bagi kehidupan kita. Sebab, hanya dengan menjadikan iman kita tetap hidup, kita akan bisa menghadapi segala rintangan dalam kehidupan kita. Iman akan menjaga kita dari hawa nafsu untuk berbuat maksiat. Takwa akan membentuk sikap hati-hati dalam diri kita agar nggak terpeleset ke dalam jurang kehinaan dan dosa. Semoga, kita sanggup menjalani hari-hari ke depan dengan semangat hidup yang dilandasi iman dan takwa yang kualitas super. Amin.


Oya, semoga edisi 052 ini bisa kamu baca isinya, resapi pelajarannya, pahami nasihatnya, dan jadikan sebagai pengetahuan dan sekaligus mengamalkannya dalam kehidupan. Sebab, Islam bukanlah agama yang melulu dijejali dengan teori. Tapi Islam sekaligus sebagai ajaran yang aplikatif, praktis, dan tentu menyelamatkan.



Salam,


Redaksi

animo #052

Assalamu'alaikum. GI, wah sru bgt yach, edisi ttg "Buktikn Klo Kmu Cnta Islam", bnr2 mnydrkan sy sbg wnita y6 mggnkan jlbab, asli, kren bgdz! Skses sllu wt GI.



Dara, MAN2 Bogor [+6285694568xxx]




'alaikumussalam Dara. Alhamdulillah. Mksh bnyk ya, krn kamu dah baca GI. Ttp 'stay tune' dengan GI ye!



Asslm. Wr.Wb. Sng deh bs dpt GI typ mnggu dr ka2k2 KREASI, pmbhsanny ga ngbsenin n up to date. Hm, adain rbrik curhat dunk! Tp khss mslh rmja. Thx.



Icha Almuslim, Bekasi [+6285697291xxx]




Wswrwb Icha. Makasih ya atas apresiasimu kpd GI. Usulmu qt 'godok' dulu ye. Biar mateng, gitu lho. Setuju?



Assalaamu'alaikum. GI kreN baNgedz. TeMA yG Obama g00d abiZ. SaLUt bWT GI. TrZ BRJuanG ya GI!



IpuNK
, YK
[+622746965xxx]




'alaikumussalam Ipunk. Alhamdulillah. Mksh bangedz jg bwt kamu ya Ipunk. Smga tema itu bs bikin kamu tambah semangat belajar utk nyari ilmu Islam. Oke? Enjoy!



Asslm. Wrwb. ya ampun GI Co_oL biz ui.... ampe2 klo q gk dksh ma wli kls q, q na ampe nagih. Su_3r bo,, KueRu3N Biz, em...em, bs gk dmuat tent partai skrang yang lg mrak2 na.Uia slm na dung wat nak2 {V_gRay 3.o} alias PGRI 30 JAKTIM.



Clara Yuaniar, Jaktim [xxxxxclara@rocketmail.com]




'alaikumussalam Clara. Waduh, kamu jg ikutan heboh neh. Kebawa "cool" juga dong gara2 bc GI. Usulmu qt tmpung dulu ye. Maaf lho. Ttp, semangat bela Islam!

Rabu, 05 November 2008

Virginitas Remaja

gaulislamedisi 051/tahun I (13 Syawal 1429 H/13 Oktober 2008)




Ngomongin virginitas remaja, bukan hanya dominasi kaum cewek. Kaum cowok juga kudu turut ambil bagian dalam masalah ini. Karena makna virgin bukan hanya 'kegadisan' saja, tapi juga mencakup 'keperjakaan'.


Virginitas sangat dekat hubungannya dengan melakukan hubungan seks. Menjaga virginitas berarti menjaga hubungan pergaulan dengan lawan jenis agar nggak kebablasan. Virgin nggaknya seseorang bukan hanya pada kondisi selaput dara saja, tapi sudah pada perilaku seksual dia yang menjurus.


Wah…kayaknya hot banget neh bahasan kita kali ini. Baca terus sampai tuntas, yuukkkk!




Virginitas, bukan tentang selaput 'gadis'


Virginitas bukan melulu pada utuh tidaknya selaput dara yang menunjukkan kegadisan seorang cewek. Tapi virginitas adalah kondisi mental dan akhlak seseorang dalam perilaku seksualnya. Jadi pihak cowok pun juga bisa dikatakan nggak virgin kalo ia sudah mulai berani melakukan seks bebas sebelum nikah.


Ada banyak kasus selaput dara robek karena aktivitas olahraga atau naik sepeda. Ada juga kasus gonta-ganti pasangan atau pacar tapi selaput dara masih utuh. Nah, di antara dua kasus itu manakah yang masih virgin dan suci?


Jelas yang pertama dong. Meskipun selaput dara sudah robek, tapi kasus pertama menunjukkan kesucian seorang gadis. Tentu saja dengan catatan selama dia bukan pengikut aliran gaul bebas loh yah. Sedangkan kasus kedua, biar kata dia kemana-mana membual suci hanya karena selaput dara utuh, itu juga masih sangat bisa dipertanyakan. Selama dia beraktivitas mendekati zina alias penggiat pacaran, maka kesucian dia hanya sebatas lip service semata. Omong kosong, Non!